Beranda > HEALTYLIFE > Mengasuh Anak dengan “Fun Learning”

Mengasuh Anak dengan “Fun Learning”


Setiap keluarga punya karakter khas dan unik. Karenanya, pola pengasuhan dalam keluarga tidak bisa dipukul rata. Meski begitu, cobalah amati, sejauhmana pola asuh membuat anggota keluarga Anda tumbuh dengan manusiawi. Artinya, semua anggota keluarga secara alami mengalami proses bertumbuh tanpa ada satu pun tahapan hidup yang terlewati.

Ermalen Dewita, pendiri Yayasan Cerdas Merdeka, Pendidikan Perempuan & Anak, mengedepankan metode fun learning dalam pendidikan anak berbasis karakter untuk usia 2 – 6 tahun.

Menurut ibu dari tiga anak yang akrab dipanggil Dewi ini, metode belajar dengan cara menyenangkan membuat anak belajar banyak hal termasuk problem solving.

Fun learning adalah ketika anak belajar dengan cara mereka namun tetap ada aturan main, tetapi bukan dengan cara interfensi, melainkan dengan cara membangun,” papar Dewi kepada Kompas Female.

Metode ini juga ditularkan kepada para orangtua untuk diterapkan dalam pola pengasuhan di rumah. Karena menurut Dewi, jika di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Cerdas anak-anak dibiasakan dengan pembelajaran menyenangkan, namun di rumah masih dengan cara formal yang tidak membangun, maka jiwa mereka tidak akan terbangun.

Pola pengasuhan di rumah pun semestinya mengedepankan pembentukan karakter. Artinya orangtua mengurangi intervensi terhadap anak. Bahasa sederhananya, tidak mendidik anak dengan menggunakan persepsinya sebagai orang dewasa.

“Karakter anak tidak tergali dengan baik ketika banyak hambatan seperti intervensi, bentakan, kekerasan, hingga pukulan. Sebaliknya seseorang bisa berkembang lebih ketika ada dukungan, kasih sayang, dan perhatian dari orangtuanya,” papar Dewi.

Metode parenting dengan menempatkan anak sebagai pusat perhatian utama merupakan kebalikan dari metode formal yang membuat imajinasi anak tidak berkembang karena dikebiri lantaran intervensi orangtuanya.

Dewi menjelaskan, bentuk interfensi di antaranya anak selalu diarahkan, dipaksa, ditekan, dihukum, dilabelkan, dengan persepsi orangtua.

Contohnya, apa yang Anda lakukan ketika melihat anak asyik main sendiri dengan mainan tentara di tangannya, dan tak hentinya berlari ke sana kemari?

“Orangtua yang menerapkan metode formal umumnya akan menggunakan persepsinya, kemudian menyuruh anak menghentikan aktivitasnya. Lain halnya ketika orangtua memperhatikan dan saat jeda, bertanya tanpa memaksa kepada si anak tentang aktivitasnya. Orangtua bisa mengetahui bahwa saat itulah imajinasinya sedang berkembang dengan
mainannya, si anak tengah menggali jiwanya,” jelas Dewi, menekankan imajinasi anak terpenggal ketika orangtua mengintervensi dengan menyuruhnya diam.

Dengan pola pembentukan karakter terhadap anak, atau berorientasi pada kebutuhan anak, orangtua dapat menggali potensi anak, membantu anak mengeksplorasi dirinya, membangun keberanian diri, dan tidak dihantui rasa takut salah, membebaskan anak menggali rasa ingin tahunya, mengembangkan imajinasinya, membantu proses tumbuh-kembangnya, membangun kemandiriannya, dan menumbuhkan motivasi dirinya.

“Dengan begitu, anak akan bertumbuh dengan bangunan jiwa yang kuat dan permanen. Kesadaran diri akan tumbuh dengan sendirinya, termasuk dalam belajar, jadi orangtua tak perlu menyuruh anak belajar tiap datang waktunya belajar, karena anak sudah sadar akan tanggungjawabnya, dalam hal ini untuk belajar,” tukas Dewi.

Kategori:HEALTYLIFE
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: